Top… Komplotan Pencurian Ternak Berhasil Diungkap Polres Payakumbuh

TNS – Dalam satu bulan terakhir, Tim Buser Satuan Reskrim Polres Payakumbuh telah berhasil mengamankan sebanyak 11 orang tersangka sindikat pelaku pencurian hewan ternak (Curnak).

Kesebelas pelaku ini diamankan di beberapa tempat yang berbeda-beda, 5 orang diantaranya ditangkap di Kota Solok, 2 orang ditangkap di Pekanbaru, 1 orang di Bandung dan 3 orang di Tasikmalaya.

Adapun identitas masing-masing pelaku yang tergabung dalam sindikat Curnak ini adalah Ikhlas Hariyanto (26) warga Simalanggang Kab.50 Kota, NHS (17) warga Simalanggang Kab. 50 Kota, Dwi Ari Suwanda (18) warga Simalanggang Kab. 50 Kota, Renold Fatrizal (30) warga Simalanggang Kab. 50 Kota, Alferidon alias Kuntau (50) warga Kota Solok, Hendro Cipto (39) warga Bengkalis Riau.

Kemudian M. Nur Alamsyah alias Mamad (38) warga Bengkalis Riau, Muhammad Fauzan (20) warga Simalanggang Kab. 50 Kota, Yondi Pratama alias Odi (21) warga Simalanggang Kab. 50 Kota, Jefri Mardianto (18) warga Simalanggang Kab. 50 Kota, dan Eka Putra  (24) warga Payakumbuh Barat.

Kapolres Payakumbuh AKBP Dony Setiawan dalam konferensi persnya menjelaskan, bahwa para pelaku sudah puluhan kali berhasil mencuri hewan ternak sejak tahun 2016, dan hal ini sudah sangat meresahkan masyarakat.

”Kesebelas orang pelaku tersebut melakukan aksinya sudah sejak tahun 2016 dan baru sekarang terungkap. Dan kita telah mengamankan 11 orang tersangka dengan 9 orang berperan sebagai pencuri dan penyedia angkutan, serta 2 orang lainnya berperan sebagai penadah”, jelas Kapolres.

Kapolres juga menambahkan modus para pelaku dalam melakukan aksinya yakni, dengan cara bersama-sama.

“Mmodus yang mereka lakukan dalam melakukan aksi ini yaitu secara bersama-sama, ada yang menyediakan kendaraan dan ada juga yang mencuri hewan ternak hidup-hidup. Ada yang menyembelih hewan ternak di tempat kejadian, kemudian diangkut dengan mobil angkut pickup bak terbuka”, terangnya.

Dijelaskan AKBP Dony Setiawan, dari tahun 2016 mereka telah melakukan pencurian sebanyak 30 TKP dengan rincian di Kota Payakumbuh sebanyak 15 TKP dengan hasil 19 ekor sapi maupun kerbau, Kabupaten 50 Kota sebanyak 9 TKP dengan hasil 10 ekor, Kabupaten Tanah Datar sebanyak 2 TKP dengan 2 ekor, Kota Bukittinggi sebanyak 4 TKP dengan pencurian 4 ekor.

“Lalu sapi maupun kerbau ini ada yang dijual di Solok, Tanah Datar, dan ke Pekanbaru,” terangnya.

Lanjutnya, komplotan tersebut menjual hasil curiannya berkisar antara 10-13 juta rupiah untuk hewan yang masih hidup, sedangkan yang telah dipotong langsung di lokasi harganya 8 juta/ekor.

Untuk sasaran sapi yang diincar oleh sindikat pencurian ini, Kapolres menyebutkan adalah sapi yang telah diikat hidungnya. Dengan alasan, sapi tersebut lebih gampang untuk dicuri dan tidak akan menimbulkan bunyi yang membuat heboh.

Sementara, Kasat Reskrim AKP llham Indarmawan menuturkan, bahwa para pelaku biasanya beraksi pada saat tengah malam sampai subuh.

“Dalam melakukan aksi tersebut biasanya waktu yang digunakan para pelaku adalah pada tengah malam, kebanyakan yaitu dari jam 12 malam ke atas sampai dengan adzan subuh”, tutur Kasat Reskrim.

Kasat Reskrim mengutarakan kronologis penangkapan, penangkapan pertama kali kami lakukan di Kota Solok pada tanggal 24 Januari 2020, setelah dilakukan pengembangan kemudian kami berhasil mengamankan 2 tersangka di Duri pada tanggal 2 Februari.

“Lalu setelah dikembangkan lagi dengan membagi tim, jajaran mengamankan lagi 1 orang tersangka di Bandung dangan 3 orang tersangka di Tasikmalaya pada tanggal 5 Februari“, ungkapnya.

Pengungkapan kasus sindikat pencurian hewan ternak ini, merupakan hasil dari penyelidikan di lapangan serta informasi dari masyarakat dan selanjutnya Sat Reskrim mengumpulkan bukti yang cukup untuk melakukan upaya paksa penangkapan.

Barang bukti yang disita dari kasus ini yaitu, pisau daging digunakan untuk melakukan pemotongan sapi di lokasi pencurian, kapak untuk memecah tulang, cangkul yang digunakan apabila kapak tidak bisa, handphone sebagai alat komunikasi antara penadah dan tersangka, tali arung, kunci mobil yang digunakan para pelaku dalam melakukan aksi, serta uang senilai 8 juta yang merupakan sisa dari hasil penjualan sapi di TKP Akabiluru.

“Atas kasus pencurian ini para pelaku pencurian dijerat Pasal 363 KUHP dengan ancaman hukuman selama 7 tahun penjara, sedangkan untuk penadahnya dijerat Pasal 480 KUHP ancaman hukuman 4 tahun penjara,” jelasnya.

Terakhir, Kapolres berpesan dan memberikan himbauan kepada masyarakat khususnya yang memiliki hewan ternak untuk meningkatkan keamanannya.

”Masyarakat harus lebih memperkuat sistem keamanan di kandang hewan ternak masing-masing dengan menambahkan kunci, menambahkan penerangan di kandang, tidak menempatkan ternak diluar kandang pada malam hari sehingga para pelaku kejahatan tidak gampang untuk melakukan pencurian,” imbaunya.

Selain itu, Kapolres mengajak masyarakat dan peternak untuk lebih waspada dan memperhatikan keamanan (asal usul) hewan ternaknya. “Jangan sampai membeli ternak tanpa dilengkapi dokumen atau surat kesehatan hewan dari instansi terkait”, bebernya.

Sementara, tersangka Renol yang merupakan pimpinan sindikat ini mengakui perbuatannya dan mengaku melakukan pencurian tersebut karena faktor ekonomi.

“Saya melakukan pencurian ini dari Duri menuju Payakumbuh, sebelumnya dihubungi teman-teman di Payakumbuh, lalu setelah dapat gambaran target hewan ternak dari teman-teman, baru saya berangkat,” terangnya.

“Saya melakukan pencurian ini karena faktor ekonomi”, imbuh tersangka Renol saat ditanyai.(*)

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *