Operasi Jaran Singgalang 2019, Polda Sumbar Ungkap 47 Kasus Curanmor

TNS – Polda Sumbar mengungkap 47 kasus pencurian kendaraan bermotor selama Operasi Jaran (Kejahatan Kendaraan) 2019. Semua kasus yang diungkap merupakan target operasi (TO), dan menahan para tersangka.

“Operasi Jaran ini dari tanggal 29 Agustus -11 September 2019. Hasilnya, Polda Sumbar dan polres/polresta jajaran mengungkap 47 kasus. Kasus-kasus yang diungkap itu adalah TO kita,” ujar Wadirreskrimum Polda Sumbar AKBP Muchtar Siregar.

Ia menjelaskan, berdasarkan kasus-kasus yang telah diungkap, jumlah tersangkanya sebanyak 59 orang. Kemudian, turut disita sebagai barangbukti puluhan kendaraan bermotor (Ranmor).

“Ada 48 barangbukti ranmor dalam kasus ini. Sebanyak 46 buah sepeda motor, dan 2 mobil. Tidak hanya ranmor saja, barang bukti juga ada 3 senjata api lengkap dengan amunisi dan sebuah senjata tajam jenis parang,” ujar Muchtar.

Masih kata Muchtar, pengungkapan paling banyak adalah Polresta Padang sebanyak 10 kasus, dengan 13 tersangka. Selanjutnya Polres Pasaman Barat, sebanyak 8 kasus dengan 6 tersangka.

“Polresta Padang, barangbukti kendaraan bermotor 13 unit, yakni 12 sepeda motor dan 1 mobil. Kemudian, di Polres Pasaman Barat ada 6 sepeda motor barang bukti”, kata.

Dikatakannya, jajaran Ditreskrimum Polda Sumbar, pada Operasi Jaran 2019 mengungkap sebanyak 2 kasus, dengan 4 tersangka. Para tersangka ditahan di sel mapolda, untuk proses lebih lanjut.

“Penyidikan masih berlanjut. Penyidik memeriksanya secara intensif untuk mengungkap jaringan para tersangka dalam kejahatan atau tindak pidana tersebut,” katanya.

Ia menambahkan, sedangkan kasus terbesar yang diungkap oleh Ditreskrimum Polda Sumbar adalah kasus perampokan truk telur. Pada kasus ini ada 6 tersangka, tetapi 3 tersangka sudah ditangkap.

“Para tersangka memiliki senjata api. Dua tersangka ditembak karena melarikan dan dikhawatirkan bisa membahayakan keselamatan anggota karena mempunyai senjata. Tiga pelaku lainnya masih diburu dan DPO,” ujarnya.

Menurut AKBP Muchtar, pelaku kejahatan mayoritas residivis. Mereka, walaupun sudah pernah ditangkap dan di penjara tetap melakukan perbuatan yang sama, karena faktor ekonomi.

“Pengakuannya begitu, karena kebutuhan ekonomi, itu alasannya. Jika residivis, tentunya akan bisa memberatkan bagi mereka pada persidangan nanti,” ungkap AKBP Muchtar.(*)

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *