Pentingnya Pembenahan Tatakelola TI Organisasi

Penggunaan aplikasi berbasis internet saat ini marak digunakan oleh setiap organisasi dan perusahaan. Pembangunan infrastruktur, hardware dan software pun diselenggarakan dengan biaya yang tak sedikit. Hal yang mendasar dimana nilai kurva balik keuntungan dapat diukur untuk perusahaan yang berbasis material(tengible). Lain halnya untuk organisasi pemerintahan yang bertugas memberikan pelayanan kepada masyarakat, maka akan fokus kepada nilai kepuasan atau non-material (intengible). Butuh waktu dan keahlian tertentu untuk memperkirakan sebuah proyek aplikasi atau penyelenggaraan teknologi memiliki manfaat yang terukur. Khusus untuk hal Teknologi Informasi (TI), seyogyanya setiap organisasi memiliki konsultan TI internal yang menjadi filter layak atau tidaknya sebuah proyek TI yang ditawarkan baik ide dari pimpinan sendiri maupun dari pihak ketiga kedalam organisasi tersebut, mengingat konsultan internal memiliki pengalaman lebih dalam tubuh organisasi itu sendiri.

Tidak dapat kita tutupi bahwa saat ini jarang kita melihat suatu organisasi nirlaba memikirkan metodologi untuk memperkirakan nilai kepuasan “pelanggan” sebelum pengadaan sebuah proyek. Akibatnya banyak ditemui masalah dikemudian hari. Ujung-ujungnya kurva manfaat tertinggal jauh dengan besarnya biaya yang dikeluarkan. Bahkan tidak mustahil akan berhenti dan tidak digunakan lagi karena tidak memenuhi keinginan masyarakat disamping selalu terbebani oleh biaya pemeliharaan perangkat dan pengembangan aplikasi. Sehingga muncul istilah aplikasi musiman.

Ada 3 hal penting yang perlu pastikan dalam pembangunan suatu proyek TI dalam sebuah organisasi.

  1. Kebijakan; yang memastikan semua menjadi aturan yang harus dilaksanakan oleh anggota organisasi.
  2. Sumber daya; sebagai pelaksana, pemelihara, bahkan masuk kedalam tim pengembang.
  3. Teknologi; berkaitan dengan biaya, ketersediaan perangkat yang tepat guna, handal dan terukur masa penggunaannya.

Kecanggihan aplikasi belum tentu bisa memenuhi hasil yang diharapkan, karena aplikasi hanya bagian dari sebuah proses rekayasa perangkat lunak. Untuk aplikasi internal, faktor lain seperti kultur, karakter, kemampuan orang-orang dalam organisasi bisa jadi membuat semua berantakan. Meskipun dilakukan pelatihan terus menerus, ini juga tidak akan membantu jika kurangnya kebijakan dari pimpinan. Sering terjadi data yang masuk tidak valid, hanya diinput untuk formalitas sehingga kebijakan dari hasil proses juga bisa berakibat salah, “Garbage in Garbage out, Gold in Gold out”.

Untuk aplikasi publik, sangat perlu perlibatan mereka untuk menilai dan meyakinkan kemudahan, kenyamanan dan manfaat aplikasi bagi masyarakat secara umum. Bisa jadi perspektif organisasi aplikasinya bermanfaat, namun disisi lain membuat masyarakat kesulitan dalam penggunaannya atau bahkan saat digunakan tidak mendapat respon untuk pelayanan yang diinginkan.

Akhir kata, organisasi pemerintahan saat ini sangat membutuhkan tatakelola TI yang baik, diikuti oleh person yang mengerti dibidang ini dan faham dengan strategi organisasi sehingga pembangunan sebuah proyek TI bisa sejalan dengan Renstra Organisasi. Sudah barang tentu Polda Sumbar sendiri sedang berusaha menuju kearah tersebut.

(Kompol Adinul Fajri, S.Kom, MTI)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *